Kampanye dimana-dimana, para simpatisan dan caleg mengemukakan janji manisnya dihadapan banyak rakyat, apakah perlu dipercaya?
Pada zaman sekarang semakin ramai orang
berlomba-lomba mengejar jabatan, berebut kedudukan sehingga
menjadikannya sebagai sebuah obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut
paham atau prinsip ini, tidak lengkap
rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah (meski sekali)
menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat.
Jabatan baik formal maupun informal di negeri kita Indonesia dipandang
sebagai sebuah "aset", karena ia baik langsung maupun tidak langsung
berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan
setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi kepala
daerah, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan
sebagainya merupakan impian dan obsesi semua orang. Mulai dari kalangan
politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, bahkan
sampai kepada artis.
Mereka berebut mengejar jabatan tanpa
mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan
layakkah dirinya memegang jabatan (kepemimpinan) tersebut. Parahnya
lagi, mereka kurang (tidak) memiliki pemahaman yang benar tentang
hakikat kepemimpinan itu sendiri. Karena menganggap jabatan adalah
keistimewaan, fasilitas, kewenangan tanpa batas, kebanggaan dan
popularitas. Padahal jabatan adalah tanggung jawab, pengorbanan,
pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai banyak orang.
Hakikat kepemimpinan
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur
sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang
pemimpin. Menurut Shihab (2002) ada dua hal yang harus dipahami tentang
hakikat kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran
bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya,
tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q.
S. Al-Baqarah (2): 124, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya
dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim
melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan
menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari
keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji
(amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang
diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan
kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam
menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan
seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri,
bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin
sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan
kemewahan di dunia.
Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW,
Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan
ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan
di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim). Sikap yang sama
juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada
beliau, dimana orang itu berkata: "Ya Rasulullah, berilah kepada kami
jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. "Maka
jawab Rasulullah saw: "Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada
suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan
itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kedua, kepemimpinan menuntut
keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih
kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara
bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak
yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa
memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad
(38): 22, "Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka
berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu".
Hal senada dikemukakan oleh Hafidhuddin
(2003). Menurutnya ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus
dipahami. Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga
dengan ulul amri. Lihat Q. S. An-Nisaâ 4): 5, "Hai orang-orang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu".
Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa
adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain.
Dengan kata lain, pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk
mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus
kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang sesungguhnya).
Kedua, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah (pelayan umat).
Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi
sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian,
hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan
bersedia menjalankan amanat Allah swt untuk mengurus dan melayani
umat/masyarakat.
Kriteria pemimpin
Para pakar telah
lama menelusuri Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat
kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi
pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh
para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu
kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam
melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu
kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya
apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya,
terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah,
yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi
dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4).
Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas
segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi).
Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan
sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya
terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiyaâ (21): 73.
Sifat-sifat dimaksud adalah: (1). Kesabaran dan ketabahan. "Kami jadikan
mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah". Lihat Q. S. As-Sajdah (32):
24. Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat
seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam
diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir
kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut. (2). Mampu
menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk
Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, "Mereka memberi petunjuk
dengan perintah Kami". Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi
mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain
tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu
mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah
masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense
of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali
merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir
sekali menikmatinya. (3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan.
Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, "Dan Kami wahyukan kepada mereka
(pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan
sholat serta menunaikan zakat". Hal ini dapat tercapai (mengantarkan
umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam
diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang
mantap tertanam di dalam dada mereka.
Sifat-sifat pokok seorang
pemimpin tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh
Al-Mubarak seperti dikutip Hafidhuddin (2002), yakni ada empat syarat
untuk menjadi pemimpin: Pertama, memiliki aqidah yang benar (aqidah
salimah). Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas (`ilmun
wasi`un). Ketiga, memiliki akhlak yang mulia (akhlaqulkarimah).
Keempat, memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam mengatur
urusan-urusan duniawi.
Memilih pemimpin
Dengan
mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan
sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka
kita wajib untuk memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan
Hadits.
Ali Imran Ayat 28:
“Janganlah orang-orang mu’min
mengambil orang-orang kafir menjadi wali*) dengan meninggalkan
orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia
dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari
sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu
terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)”
*)Wali = Pemimpin
AL Maidah ayat 51:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka
adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim.
Kaum muslimin yang benar-benar beriman
kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah saw dilarang keras untuk
memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan
agama (akidahnya lemah) atau seseorang yang menjadikan agama sebagai
bahan permainan/kepentingan tertentu. Sebab pertanggungjawaban atas
pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang
mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain masyarakat harus
selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah
"cerminâ" siapa mereka. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang
berbunyi: "Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin
kalian".
Sikap rakyat terhadap pemimpin
Dalam proses
pengangkatan seseorang sebagai pemimpin terdapat keterlibatan pihak lain
selain Allah, yaitu masyarakat. Karena yang memilih pemimpin adalah
masyarakat. Konsekwensinya masyarakat harus mentaati pemimpin mereka,
mencintai, menyenangi, atau sekurangnya tidak membenci. Sabda Rasulullah
saw: "Barang siapa yang mengimami (memimpin) sekelompok manusia (walau)
dalam sholat, sedangkan mereka tidak menyenanginya, maka sholatnya
tidak melampaui kedua telinganya (tidak diterima Allah)".
Di
lain pihak pemimpin dituntut untuk memahami kehendak dan memperhatikan
penderitaan rakyat. Sebab dalam sejarahnya para rasul tidak diutus
kecuali yang mampu memahami bahasa (kehendak) kaumnya serta mengerti
(kesusahan) mereka. Lihat Q. S. Ibrahim (14): 4, "Kami tidak pernah
mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya". dan Q. S.
At-Taubah (9): 129, "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul
dari kaummu sendiri, terasa berat baginya penderitaanmu lagi sangat
mengharapkan kebaikan bagi kamu, sangat penyantun dan penyayang kepada
kaum mukmin.
Demikianlah Al-Quran dan Hadits menekankan
bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi pemimpin. Sebab memilih
pemimpin dengan baik dan benar adalah sama pentingnya dengan menjadi
pemimpin yang baik dan benar.(*)
Kamis, 20 Maret 2014
Kamis, 09 Januari 2014
Muhammad Saihul Basyir, Pemuda Penghafal Al Qur'an
“Pemuda Kece adalah seseorang yang berbakti kepada kedua orangtua dan agamanya” (Salah satu bunyi kicauan di akun Twitter milik Saihul Basyir)
Muhammad Saihul Basyir adalah sosok pemuda tampan yang periang, bersahabat, baik hati dan tidak sombong. Di samping itu Basyir (panggilan akrabnya) adalah salah satu penghafal Al-Qur’an yang masih muda karena telah mengkhatamkan hafalannya ketika berusia sebelas tahun. Banyak prestasi dan keistimewaan yang Allah berikan ketika Saihul Basyir memulai proses menghafal dan menamatkan hafalannya. Bagaimana kondisi keluarga Saihul Basyir dan fase demi fase yang telah dijalaninya? Berikut ini adalah sekilas dari cuplikan kisah perjalanan hidup beliau. Semoga banyak yang terinspirasi dan termotivasi melihat profil pemuda yang telah mengkhidmatkan diri kepada Al-Qur’an ini, dan semoga keistiqamahan selalu mengiringinya.
I. Keluarga Penghafal Al-Qur’an
Muhammad Saihul Basyir, lahir di Jakarta 10 Januari 1996. Sekarang ia –saat di wawancara- duduk di bangku kelas 3 SMA di Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia, Bogor. Sekilas tentang keluarganya, ayahnya yang bernama Mutammimul Ula (57 tahun) adalah seorang yang berasal dari Solo tepatnya di kecamatan Sragen. Sang kakek mendidik ayahnya dengan didikan yang keras, karena dahulu kakek dari sang ayah adalah seorang yang aktif di partai Masyumi, sehingga apa yang telah diterapkan oleh kakek kepada ayahnya menurun kepada anak-anaknya juga, Pak Tamim (begitu beliau dipanggil) menamatkan SMA di sebuah sekolah Islam di Solo bernama SMA Al-Islam, kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Sultan Agung Semarang pada tahun 1977, hingga akhirnya aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan juga sempat menjadi ketua umum Pengurus Besar PII tersebut selama satu periode (1983-1986). Beliau juga seorang Magister Ilmu Hukum di Universitas Indonesia tahun 2007 yang sebelumnya menyelesaikan Sarjana Hukum di Universitas Diponegoro tahun 1982. Dalam dunia politik, beliau tergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera yang pernah membawanya menjadi anggota DPR-RI pada periode 1999-2004 dan terpilih kembali pada periode 2004-2009.
Sedangkan ibunya yang bernama Wirianingsing (51 tahun) adalah orang Jakarta, sama dengan ayahnya, sang ibu juga dibesarkan oleh kakek yang juga seorang veteran, kemudian menamatkan jenjang S1 di Universitas Padjajaran (Unpad) pada Fakultas Komunikasi, dan melanjutkan S2 di UI Salemba mengambil Psikologi. Ibu Wiwi (panggilan akrab kesehariannya) bukanlah orang yang tidak memiliki kesibukan, melainkan seorang wanita yang super sibuk. Sejak muda aktif di berbagai organisasi, pernah menjadi pengurus wilayah PII-Jawa Barat, Pengurus Besar PII, dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Universitas Islam Bandung (Unisba), Ketua Pengurus Pusat Salimah (sebuah organisasi muslimah yang tersebar di 30 provinsi) tahun 2005-2010, Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, Presidium Badan Musyawarah Organisasi Wanita Islam (BMOWI) 2007-2012, dan Ketua Yayasan Citra Insani (2009 hingga kini). Ia juga pernah menjadi anggota delegasi RI dalam sidang United Nations Comission on the Status of Women (UNCSW) ke-51 di New York, Amerika Serikat. Kini, Ibu Wiwi menjadi anggota DPR-RI Komisi IX dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Awal mula pertemuan sang ayah dan sang ibu adalah ketika keduanya mengikuti seminar di Bandung, kebetulan ayahnya -yang aktif terlebih dahulu daripada ibunya di PII- menjadi pemateri di seminar tersebut. Pada akhirnya berkenalan dan mempunyai visi yang sama, yaitu menciptakan generasi yang shalih dan bermanfaat bagi umat. Cita-cita terbesar kedua orang tuanya adalah menciptakan generasi penghafal Al-Qur’an di masa yang akan datang, hingga akhirnya dikaruniai sebelas orang anak. Alhamdulillah enam orang dari sebelas orang anaknya sudah berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an. Berikut profil singkat kesebelas buah hati mereka:
1. Afzalurahman Assalam (27 tahun)
Hafal Al-Qur’an pada usia 13 tahun di sebuah pesantren di Bobos, Cirebon. Sarjana Teknik Geofisika ITB (Institut Teknologi Bandung). Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.
2. Faris Jihady Hanifa (26 tahun)
Hafal Al-Qur’an pada usia 9 tahun di Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus, Jawa Tengah dengan predikat Mumtaz. Mengambil S1 Fakultas Syariah di LIPIA Jakarta. Sekarang sedang menyelesaikan studi masternya di King Saud University, Riyadh Arab Saudi. Peraih juara I lomba tahfizh Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Arab Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.
3. Maryam Qonitat (25 tahun)
Hafal Al-Qur’an sejak usia 16 tahun di Pesantren Husnul Khatimah, Kuningan Jawa Barat. Kemudian melanjutkan studi S1 di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Sekarang sedang melanjutkan S2 di International Islamic University Malaysia. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syekh Al-Azhar.
4. Scientia Afifah Taibah (23 tahun)
Hafal Al-Qur’an 30 juz sejak usia 19 tahun. Seorang sarjana hukum di Universitas Indonesia (UI). Faktanya, ketika selesai SMA tidak langsung melanjutkan kuliah akan tetapi dia membuat program menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu di Al-Hikmah Jakarta sampai selesai. Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murattal Al-Qur’an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.
5. Ahmad Rasikh ‘Ilmi (22 tahun)
Hafal 15 juz Al-Qur’an sejak duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Kini sedang menyelesaikan studi S1 di Universitas Islam Internasional Malaysia pada jurusan Ushul Fiqh. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.
6. Ismail Ghulam Halim (20 tahun)
Hafal 13 juz Al-Qur’an sejak duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Mahasiswa Teknik Universitas Indonesia. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfizh terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.
7. Yusuf Zaim Hakim (19 tahun)
Hafal Al-Qur’an 30 juz sejak usia 17 tahun di Pesantren Darul Qur’an Yusuf Mansur, Bandung. Mahasiswa di Universitas Indonesia. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.
8. Muhammad Syaihul Basyir (17 tahun)
Hafal Al-Qur’an 30 juz pada saat kelas 6 SD.
9. Hadi Sabila Rosyad (16 tahun)
Hafal 18 juz Al-Qur’an. Santri kelas 2 SMA di Pesantren Terpadu Darul Qur’an Mulia Bogor. Di antara prestasinya adalah juara I lomba membaca puisi.
10. Himmaty Muyassarah (14 tahun)
Hafal 13 juz Al-Qur’an. Kelas 3 SMP Darul Qur’an Mulia Bogor.
11.Hasna Khairunnisa, wafat usia 3 tahun, akibat tumor otak pada bulan Juli 2OO6.
Tentu saja ini adalah karunia Allah dan prestasi yang luar biasa, salah satu contoh keluarga muslim Indonesia yang perlu dijadikan contoh dan teladan. Dengan berbagai macam kesibukan baik sebagai seorang pendakwah dan wakil rakyat, kedua orang tuanya mampu membagi waktunya dengan baik untuk mendampingi perkembangan anak-anaknya, apalagi mereka berdua melakukan semuanya sendiri, tanpa pembantu rumah tangga.
II. Awal Menghafal Sampai Tamat
Banyak yang memicu semangat Saihul Basyir untuk menghafal Al-Qur’an, salah satunya terinspirasi dan termotivasi karena melihat kakak keduanya, Faris Jihadi Hanifa, yang telah mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an di usia yang masih sangat muda yaitu sembilan tahun.
Ibu beliau yang memang menginginkan Basyir kecil meniru persis seperti kakak keduanya tersebut, akhirnya sejak kelas 1 SD beliau dimasukkan ke pesantren tahfizh untuk anak-anak yang sama di Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an Kudus, yang dirintis oleh KH. Arwani, di sanalah proses menghafal Al-Qur’an Basyir dimulai, beliau benar-benar tidak memahami makna hakiki menghafal Al-Qur’an karena masih polos, yang ada di dalam benak pikirannya saat itu adalah mengkhatamkan Al-Qur’an di kelas 3 SD lalu melancarkannya di kelas 4 dan 5 SD, sehingga di kelas 6 SD sudah fokus ke ujian, namun apa yang dicita-citakan belum tercapai karena terbentur memiliki pribadi yang tidak mudah beradaptasi, mudah kangen dengan orangtua, hingga akhirnya Basyir keluar dari sana pada usia sembilan tahun tepatnya kelas 4 SD, pada saat itu Basyir baru berhasil menghafal Al-Qur’an sebanyak 21 juz.
Sebenarnya ibunya tidak menyetujui Basyir keluar dari pesantren, tapi Basyir meyakinkan ibunya dengan jawaban polos anak kecil bahwa ia mampu dan bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an secara sempurna di rumah. Akhirnya pilihan studinya jatuh ke SDIT Al-Hikmah yang berlokasi di Mampang-Jakarta Selatan, ternyata kenyataannya tak semudah apa yang dibayangkan, karena padatnya jadwal kegiatan sekolah, di samping posisinya yang pulang-pergi tidak menetap seperti di pesantrennya dulu. Akhirnya jadwal dibuat oleh orang tua Basyir sedemikian rupa sehingga terbentuklah program mengaji dua waktu , waktu pertama setelah subuh, beliau diwajibkan menyetor satu halaman kepada ibunya, kemudian ketika Maghrib tiba, memuraja’ah [mengulang-ulang] hafalan yang dimiliki sebanyak lima halaman saja. Adapun program dari ayahnya yaitu tilawah Al-Qur’an paling minimal sebulan sekali harus berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali putaran, ketika berhasil mencapai target apa yang ayah dan ibunya minta, beliau tak menyadari hal tersebut hingga akhirnya sadar ketika dewasa, ketika itu ayah dan ibunya selalu memberikan reward atau hadiah karena target telah berhasil dicapai Basyir, mereka membelikan apa yang dia mau, namun orientasinya tetap tertuju pada bagaimana bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebelum naik ke jenjang SMP.
Alhamdulillah berkat karunia Allah dan nikmat-Nya, beliau dimudahkan dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di umur 11 tahun ketika duduk di kelas 6 SD, beliau tidak mengkhatamkan Al-Qur’an tidak secara sempurna, tidak sampai juz 30. Karena pada waktu beliau menyetorkan hafalan kepada ustadz -yang ada di sekolah- pada surat At-Tahrim akhir juz 28, ketika sudah selesai setoran surat At-Tahrim ustadznya mengatakan dan memerintahkan kepadanya untuk berhenti, “cukup ya Basyir kamu sudah selesai menghafal Al-Qur’an”, kata beliau meniru perkataan ustadznya, beliau pun terheran, “kenapa ustadz Ana belum selesai menyetor juz 29 dan 30”, ustadznya pun balik menjawab, “tak apa, kamu sudah menghafal Al-Qur’an, kamu sudah berhasil menghafal juz 29 dan 30 secara mendengar”, memang kenyataannya seperti itu beliau menghafalkan juz 29 dan 30 tanpa menghafal secara lisan atau secara disetorkan, melainkan hanya mendengar bacaan Al-Qur’an juz 29 dan 30 dari orangtua, saudara-saudarinya yang telah terekam secara otomatis dalam ingatannya.
Lepas dari bangku SD, beliau merasa sedikit bangga, namun ketika teman-teman dan sanak saudara Basyir bertanya kepada ayah ataupun ibunya, “apakah Basyir sudah berhasil menghafalkan Al-Qur’an”, “ya sudah berhasil menghafalkan Al-Qur’an secara hifdz [menghafal]”, akan tetapi ketika Basyir dites dan ditanya suratnya tidak bisa, karena ketika SD itu orientasinya hanya tertuju kepada berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an saja, tidak ada pikiran untuk melancarkan dan mengitqankan dan seterusnya, hingga akhirnya ayah Basyir mempunyai pikiran yang sama dengannya yaitu masuk ke pesantren Al-Qur’an kembali, dan akhirnya masuklah Basyir ke sebuah pesantren yang bernama Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia di Bogor, karena merasa terpanggil dan tuntutan alami, untuk apa beliau menghafalkan Al-Qur’an secara sempurna akan tetapi ketika disuruh membaca secara acak tidak bisa, ayahnya pun pernah berucap, “Basyir, kamu tidak bisa mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an kalau kamu tidak bisa menghafal ayat-ayatnya secara sempurna”, melalui perintah ayahnya tersebut Basyir termotivasi menghafalnya secara ulang, beliau pun mengakui awalnya agak berat ketika menghafalkan Al-Qur’an secara ulang di pesantren Darul Quran Mulia itu, berkat dukungan dan doa dari orangtua dan sanak saudara dan tentunya dari dirinya sendiri akhirnya Basyir pun berhasil mengkhatamkan kembali hafalan Al-Qur’an di usianya yang ketiga belas tahun, dan rajin memuraja’ah secara terus menerus sampai sempurna karena ia sadar hafalannya belum lancar, padahal orang lain telah menilai hafalannya sudah bagus dan lancar.
III. Suasana Keluarga dan Lingkungan
Kedua orang tuanya telah berusaha menciptakan sebuah lingkungan yang paling kondusif di rumah, hanya menyalahkan televisi dua jam saja dan lebih dari dua jam ketika hari libur atau hari Ahad. Kemudian ibunya mewajibkan Basyir muraja’ah dan tilawah setelah Maghrib serta menyetorkan hafalan baru setelah Subuh sebelum masuk sekolah. Ayahnya secara naluri dan alami sering menyetel radio atau kaset murattal Al-Qur’an imam Masjidil Haram, setiap saat Al-Qur’an terdengar di telinganya ketika berada di rumah, sehingga sehari-harinya tercipta suasana lingkungan qur’ani.
Program tersebut mempunyai kelebihan tersendiri, ketika orangtua tidak bisa mengontrol kegiatan anak-anak di rumah, seorang ayah sudah tahu apa yang dilihat dan didengarkan, tentu yang didengarkan ketika ayahnya tidak ada adalah murattal, dan apa yang dilihat adalah buku bacaan, karena salah satu bentuk yang ayah Basyir ciptakan adalah membuat perpustakaan pribadi yang berisikan koleksi buku hingga empat sampai lima ribu buku, sehingga ketika televisi tidak dinyalakan maka Basyir lari ke perpustakaan, membaca bacaan anak-anak yang islami.
Dalam perpustakaan pribadi tersebut, buku koleksinya mencakup semua hal, baik tentang politik dan hukum sebuah kegiatan yang digeluti ayah Basyir, maupun yang ibunya tekuni tentang kewanitaan dan psikologi anak, kemudian yang saudara-saudarinya dalami tentang ilmu-ilmu syariah, kitab-kitab fiqih dan tafsir, buku-buku ilmiah, sains dan eksakta, hingga apa yang adiknya senangi ketika itu yaitu novel-novel remaja dan motivasi, jadi pemandangan yang tak aneh ketika televisi dimatikan mereka bisa betah berjam-jam di dalam perpustakaan, menggeluti bacaan yang mereka suka dan senangi, hal tersebutlah yang telah berhasil membentuk pribadi keluarganya menjadi pribadi yang positif, suka membaca, gemar menelaah ilmu-ilmu, gemar berdiskusi. Intinya kedua orangtua Basyir tidak hanya ingin Al-Qur’an cukup dihafal saja namun harus diamalkan dan dipraktekkan pada kehidupan nyata dengan hati yang bersih.
Al-Qur’an dijadikan sebagai dasar pijakan utama masing-masing anak agar hobi dan kelebihan mereka yang berbeda satu sama lain bisa lebih terarah, dan itu pun juga harus dimulai dengan kecintaan terhadap buku-buku ilmiah dan buku-buku yang bermanfaat lainnya. Uniknya, ketika beliau masih kecil ibunya sering membawakan dongeng sebelum tidur, setiap malam diceritakan kepadanya tentang sirah sahabat, khulafaur rasyidin, dan yang lebih utama adalah sirah nabawi.
Hiburan lain yang ibunya izinkan adalah mendengarkan lantunan nasyid dan musik islami yang mengandung ajaran Islam, Rasulullah maupun sahabat. Sehingga kadang kala apa yang mereka ketahui dan apa yang ada di kepala mereka tidak sama dengan apa yang digeluti dan apa yang disenangi oleh anak-anak yang seusia mereka, contohnya ketika SD teman-temannya mungkin suka dengan yang namanya game online, namun secara pribadi Basyir tidak menyukai hal tersebut, lebih menyenangi hal-hal yang berbau kegiatan positif, itu dampak positif dari didikan orang tuanya yang telah membentuk anak-anaknya memiliki karakter yang baik, kuat dan qur’ani. Semoga selalu istiqamah.
IV. Hikmah Mengikuti Perlombaan Menghafal Al-Qur’an
Sang Jawara Nasional MHQ 30 juz ini menjadikan perlombaan menghafal Al-Qur’an dan sejenisnya sebagai batu loncatan untuk maju ke depan, karena sebelum mengikuti perlombaan Basyir belum mengetahui di mana kadar kekuatan hafalan yang dimiliki, perlombaan tersebut pun dijadikannya sebagai sarana bukan tujuan, karena setelah mengikuti perlombaan itu ia sadar masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi hafalan maupun tajwidnya, pada akhirnya ia pun termotivasi untuk selalu mengulang-ulang hafalan yang ada agar selalu melekat dalam dirinya.
Dalam musabaqah [kompetisi sehat] itupun Basyir dipertemukan dengan para pecinta dan penghafal Al-Qur’an dari seluruh Indonesia maupun luar negeri, bisa mengenal lebih dalam dan bisa berinteraksi secara langsung, berbagi pengalaman dan diskusi-diskusi yang masih berkaitan dengan kesucian Al-Qur’an dan masalah kehidupan yang lainnya, itulah salah satu kelebihan yang bisa didapatkan Basyir setelah mengikuti perlombaan MTQ dan sejenisnya. Jadi bukan hanya kemenangan yang dicari, karena menang-kalah adalah hal biasa dalam kehidupan, yang luar biasa adalah persahabatan sesama pecinta Al-Qur’an yang harus dijunjung tinggi.
V. Harapan dan Target
Pemuda yang dianugerahi Allah banyak nikmat ini berkeinginan memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an sampai jenjang tertinggi di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Tujuannya ingin mengabdikan diri untuk umat dan memperbaiki moral bangsa, moral pemuda yang mulai merosot, ia yakin bisa merubah hal tersebut melalui prinsipnya dengan Al-Qur’an, “Allah akan membantu orang-orang yang membantu agama-Nya”.
Beliau pun ingin bertemu dengan orang-orang hebat dan sukses, masyaikh, para imam besar dan tokoh qari lebih banyak lagi, karena sebelumnya beliau pernah bertemu dengan Syekh Abdullah bin Ali Bashfar salah seorang imam besar di Jeddah, Arab Saudi, Syekh Aiman Rusyd al-Suwaidi seorang pakar qiraah yang berasal dari Syria, Syekh Anas Ahmad Karzoun, dan masih banyak lagi yang lainnya sewaktu mengikuti pertemuan dengan para penghafal Al-Qur’an anak-anak se-dunia di Jeddah, Arab Saudi. Ini adalah salah satu bukti kemudahan yang Allah berikan kepadanya karena selalu berusaha untuk berkomitmen dengan Al-Qur’an. Basyir pun tetap yakin akan bertemu dengan orang-orang yang lebih hebat lainnya jika ia berkomitmen untuk terus mengabdikan diri kepada Al-Qur’an. Karena harapan dan mimpi beliau lainnya adalah ingin menjadi Imam Besar di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, semoga Allah mengabulkan doanya tersebut. Aamiin.
Target Basyir selanjutnya adalah ingin membangun pesantren Al-Qur’an yang mempelajari ilmu-ilmu sains dan eksakta, agar bisa mendidik dan mengajarkan pemuda-pemudi bangsa Indonesia menjadi generasi qur’ani. Karena cita-cita terbesar Basyir sewaktu kecil adalah ketika sudah besar nanti ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Cita-cita anak yang sungguh luar biasa. Semoga banyak yang mengaminkan.
VI. Tips dan Trik Menghafal Al-Qur’an
Hal yang paling utama adalah pasang niat semua karena Allah, harus memiliki tekad dan azam yang kuat untuk berjihad di jalan-Nya serta mengorientasikan semua tujuan kepada ridha dan surga-Nya.
Sebelum masuk program menghafal diharuskan untuk mengikuti program tahsin, tujuannya untuk memperbaiki pelafalan bacaan Al-Qur’an dan menguasai tajwid. Setelah itu boleh mengikuti program tahfizh dengan mengikuti tips berikut:
1. Membagi waktu menjadi dua kali dalam sehari, waktu Subuh untuk menghafal dan waktu Maghrib digunakan untuk mengulang hafalan.
2. Harus memiliki musyrif, guru ngaji untuk menyetor dan membenarkan hafalan, musyrifnya pun harus hafal Al-Qur’an dengan baik.
3. Memakai satu mushaf tetap hingga selesai, mushaf dengan rasm utsmani.
4. Evaluasi hafalan secara berkala, setiap juz yang sudah selesai dihafal harus dites sampai mengetahui dan memperbaiki tingkat kesalahan sekecil mungkin. Begitu juga per-5 juz, per-10 juz, dan seterusnya sesuai kelipatan hingga 30 juz.
6. Tingkatkan amalan shalih.
7. Jadikan shalat-shalat sunnah rawatib sebagai waktu untuk mengulang walaupun hanya beberapa ayat, lebih afdhal lagi melakukan muraja’ah satu sampai dua juz pada waktu shalat malam atau tahajud, lebih banyak jumlah juz yang diulang akan lebih bagus lagi, karena sepertiga malam adalah sebaik-baik waktu agar hafalan yang ada tetap melekat kuat.
8. Cari lingkungan terbaik untuk menghafal, berkumpul bersama orang shalih dan para penghafal Al-Qur’an.
9. Doa tanpa henti kepada Allah, meminta keistiqamahan dan kelancaran, karena Al-Qur’an diturunkan dari Allah.
10. Tambahan, untuk mempercepat dan mempermudah dalam menghafal dianjurkan memakai mushaf rasm utsmani yang ada terjemahannya, agar apa yang dihafal lebih meresap di hati.
Demikian tips dan trik menghafal Al-Qur’an dari Muhammad Saihul Basyir, seorang pemuda kece –pemuda yang taat kepada kedua orangtua dan agama- lagi sangat bersahabat ini. Semoga kebaikan ini menjadi ladang amal untuk beliau karena mau berbagi pengalaman untuk kita semua, tentunya hal ini harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga kita dan anak keturunan semua menjadi ahlul quran, berpegang teguh kepada ajaran agama, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aamiin.
VII. Tes Hafalan
Selain memiliki wajah yang sejuk dipandang dan memiliki prinsip “Forever single until the time”, suara alunan murattalnya pun tak kalah indah, tak aneh jika banyak prestasi yang diraihnya karena keistimewaan hafalannya yang luar biasa.
Berikut contoh tes hafalan Al-Qur’an yang dijawabnya dengan tenang dan lancar, tak aneh bila nilai Mumtaz disandangnya:
- Juz 5, Surah An-Nisaa ayat: 115-125
- Juz 25, Surah As-Syuuraa ayat: 47-Selesai disambung awal Surah Az-Zukhruuf sampai ayat 8.
Bahkan Syekh Muhammad Jibril, salah seorang Imam dan Syekh Murattal Al-Qur’an di Mesir memberikan penilaian baik terhadap hafalan dan tilawah Saihul Basyir melalui salah satu video Saihul Basyir sewaktu mengikuti perlombaan menghafal Al-Qur’an -yang penulis kirim khusus ke Syekh Jibril-. Beliau menilai bacaan dan hafalan Saihul Basyir sudah bagus, beliau hanya menyarankan agar Saihul Basyir meningkatkan dan belajar kembali aneka ragam nagham membaca Al-Qur’an agar bisa menguasai semua nada murattal, tidak hanya satu nada bacaan saja. Semoga dengan mendapatkan doa khusus dan suntikan pujian serta kritikan –nasihat- yang membangun dari Syekh Muhammad Jibril dapat diterapkan langsung oleh Saihul Basyir, dan ia pun semakin semangat untuk mempelajarinya.
Harapan ke depan, semoga Saihul Basyir bisa memperdalam dan menguasai tafsir Al-Qur’an dengan tiga bahasa; Arab-Inggris-Indonesia. Karena poin hafalan Al-Qur’annya sudah didapat. Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada beliau –tentu kepada kita semua juga- agar istiqamah di jalan-Nya, dan semoga Allah memperbanyak “Muhammad Saihul Basyir” lainnya yang selalu berkomitmen untuk menjaga ayat-ayat-Nya. Aamiin. []
Muhammad Saihul Basyir adalah sosok pemuda tampan yang periang, bersahabat, baik hati dan tidak sombong. Di samping itu Basyir (panggilan akrabnya) adalah salah satu penghafal Al-Qur’an yang masih muda karena telah mengkhatamkan hafalannya ketika berusia sebelas tahun. Banyak prestasi dan keistimewaan yang Allah berikan ketika Saihul Basyir memulai proses menghafal dan menamatkan hafalannya. Bagaimana kondisi keluarga Saihul Basyir dan fase demi fase yang telah dijalaninya? Berikut ini adalah sekilas dari cuplikan kisah perjalanan hidup beliau. Semoga banyak yang terinspirasi dan termotivasi melihat profil pemuda yang telah mengkhidmatkan diri kepada Al-Qur’an ini, dan semoga keistiqamahan selalu mengiringinya.
I. Keluarga Penghafal Al-Qur’an
Muhammad Saihul Basyir, lahir di Jakarta 10 Januari 1996. Sekarang ia –saat di wawancara- duduk di bangku kelas 3 SMA di Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia, Bogor. Sekilas tentang keluarganya, ayahnya yang bernama Mutammimul Ula (57 tahun) adalah seorang yang berasal dari Solo tepatnya di kecamatan Sragen. Sang kakek mendidik ayahnya dengan didikan yang keras, karena dahulu kakek dari sang ayah adalah seorang yang aktif di partai Masyumi, sehingga apa yang telah diterapkan oleh kakek kepada ayahnya menurun kepada anak-anaknya juga, Pak Tamim (begitu beliau dipanggil) menamatkan SMA di sebuah sekolah Islam di Solo bernama SMA Al-Islam, kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Sultan Agung Semarang pada tahun 1977, hingga akhirnya aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan juga sempat menjadi ketua umum Pengurus Besar PII tersebut selama satu periode (1983-1986). Beliau juga seorang Magister Ilmu Hukum di Universitas Indonesia tahun 2007 yang sebelumnya menyelesaikan Sarjana Hukum di Universitas Diponegoro tahun 1982. Dalam dunia politik, beliau tergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera yang pernah membawanya menjadi anggota DPR-RI pada periode 1999-2004 dan terpilih kembali pada periode 2004-2009.
Sedangkan ibunya yang bernama Wirianingsing (51 tahun) adalah orang Jakarta, sama dengan ayahnya, sang ibu juga dibesarkan oleh kakek yang juga seorang veteran, kemudian menamatkan jenjang S1 di Universitas Padjajaran (Unpad) pada Fakultas Komunikasi, dan melanjutkan S2 di UI Salemba mengambil Psikologi. Ibu Wiwi (panggilan akrab kesehariannya) bukanlah orang yang tidak memiliki kesibukan, melainkan seorang wanita yang super sibuk. Sejak muda aktif di berbagai organisasi, pernah menjadi pengurus wilayah PII-Jawa Barat, Pengurus Besar PII, dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Universitas Islam Bandung (Unisba), Ketua Pengurus Pusat Salimah (sebuah organisasi muslimah yang tersebar di 30 provinsi) tahun 2005-2010, Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, Presidium Badan Musyawarah Organisasi Wanita Islam (BMOWI) 2007-2012, dan Ketua Yayasan Citra Insani (2009 hingga kini). Ia juga pernah menjadi anggota delegasi RI dalam sidang United Nations Comission on the Status of Women (UNCSW) ke-51 di New York, Amerika Serikat. Kini, Ibu Wiwi menjadi anggota DPR-RI Komisi IX dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Awal mula pertemuan sang ayah dan sang ibu adalah ketika keduanya mengikuti seminar di Bandung, kebetulan ayahnya -yang aktif terlebih dahulu daripada ibunya di PII- menjadi pemateri di seminar tersebut. Pada akhirnya berkenalan dan mempunyai visi yang sama, yaitu menciptakan generasi yang shalih dan bermanfaat bagi umat. Cita-cita terbesar kedua orang tuanya adalah menciptakan generasi penghafal Al-Qur’an di masa yang akan datang, hingga akhirnya dikaruniai sebelas orang anak. Alhamdulillah enam orang dari sebelas orang anaknya sudah berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an. Berikut profil singkat kesebelas buah hati mereka:
1. Afzalurahman Assalam (27 tahun)
Hafal Al-Qur’an pada usia 13 tahun di sebuah pesantren di Bobos, Cirebon. Sarjana Teknik Geofisika ITB (Institut Teknologi Bandung). Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.
2. Faris Jihady Hanifa (26 tahun)
Hafal Al-Qur’an pada usia 9 tahun di Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus, Jawa Tengah dengan predikat Mumtaz. Mengambil S1 Fakultas Syariah di LIPIA Jakarta. Sekarang sedang menyelesaikan studi masternya di King Saud University, Riyadh Arab Saudi. Peraih juara I lomba tahfizh Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Arab Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.
3. Maryam Qonitat (25 tahun)
Hafal Al-Qur’an sejak usia 16 tahun di Pesantren Husnul Khatimah, Kuningan Jawa Barat. Kemudian melanjutkan studi S1 di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Sekarang sedang melanjutkan S2 di International Islamic University Malaysia. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syekh Al-Azhar.
4. Scientia Afifah Taibah (23 tahun)
Hafal Al-Qur’an 30 juz sejak usia 19 tahun. Seorang sarjana hukum di Universitas Indonesia (UI). Faktanya, ketika selesai SMA tidak langsung melanjutkan kuliah akan tetapi dia membuat program menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu di Al-Hikmah Jakarta sampai selesai. Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murattal Al-Qur’an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.
5. Ahmad Rasikh ‘Ilmi (22 tahun)
Hafal 15 juz Al-Qur’an sejak duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Kini sedang menyelesaikan studi S1 di Universitas Islam Internasional Malaysia pada jurusan Ushul Fiqh. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.
6. Ismail Ghulam Halim (20 tahun)
Hafal 13 juz Al-Qur’an sejak duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Mahasiswa Teknik Universitas Indonesia. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfizh terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.
7. Yusuf Zaim Hakim (19 tahun)
Hafal Al-Qur’an 30 juz sejak usia 17 tahun di Pesantren Darul Qur’an Yusuf Mansur, Bandung. Mahasiswa di Universitas Indonesia. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.
8. Muhammad Syaihul Basyir (17 tahun)
Hafal Al-Qur’an 30 juz pada saat kelas 6 SD.
9. Hadi Sabila Rosyad (16 tahun)
Hafal 18 juz Al-Qur’an. Santri kelas 2 SMA di Pesantren Terpadu Darul Qur’an Mulia Bogor. Di antara prestasinya adalah juara I lomba membaca puisi.
10. Himmaty Muyassarah (14 tahun)
Hafal 13 juz Al-Qur’an. Kelas 3 SMP Darul Qur’an Mulia Bogor.
11.Hasna Khairunnisa, wafat usia 3 tahun, akibat tumor otak pada bulan Juli 2OO6.
Tentu saja ini adalah karunia Allah dan prestasi yang luar biasa, salah satu contoh keluarga muslim Indonesia yang perlu dijadikan contoh dan teladan. Dengan berbagai macam kesibukan baik sebagai seorang pendakwah dan wakil rakyat, kedua orang tuanya mampu membagi waktunya dengan baik untuk mendampingi perkembangan anak-anaknya, apalagi mereka berdua melakukan semuanya sendiri, tanpa pembantu rumah tangga.
II. Awal Menghafal Sampai Tamat
Banyak yang memicu semangat Saihul Basyir untuk menghafal Al-Qur’an, salah satunya terinspirasi dan termotivasi karena melihat kakak keduanya, Faris Jihadi Hanifa, yang telah mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an di usia yang masih sangat muda yaitu sembilan tahun.
Ibu beliau yang memang menginginkan Basyir kecil meniru persis seperti kakak keduanya tersebut, akhirnya sejak kelas 1 SD beliau dimasukkan ke pesantren tahfizh untuk anak-anak yang sama di Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an Kudus, yang dirintis oleh KH. Arwani, di sanalah proses menghafal Al-Qur’an Basyir dimulai, beliau benar-benar tidak memahami makna hakiki menghafal Al-Qur’an karena masih polos, yang ada di dalam benak pikirannya saat itu adalah mengkhatamkan Al-Qur’an di kelas 3 SD lalu melancarkannya di kelas 4 dan 5 SD, sehingga di kelas 6 SD sudah fokus ke ujian, namun apa yang dicita-citakan belum tercapai karena terbentur memiliki pribadi yang tidak mudah beradaptasi, mudah kangen dengan orangtua, hingga akhirnya Basyir keluar dari sana pada usia sembilan tahun tepatnya kelas 4 SD, pada saat itu Basyir baru berhasil menghafal Al-Qur’an sebanyak 21 juz.
Sebenarnya ibunya tidak menyetujui Basyir keluar dari pesantren, tapi Basyir meyakinkan ibunya dengan jawaban polos anak kecil bahwa ia mampu dan bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an secara sempurna di rumah. Akhirnya pilihan studinya jatuh ke SDIT Al-Hikmah yang berlokasi di Mampang-Jakarta Selatan, ternyata kenyataannya tak semudah apa yang dibayangkan, karena padatnya jadwal kegiatan sekolah, di samping posisinya yang pulang-pergi tidak menetap seperti di pesantrennya dulu. Akhirnya jadwal dibuat oleh orang tua Basyir sedemikian rupa sehingga terbentuklah program mengaji dua waktu , waktu pertama setelah subuh, beliau diwajibkan menyetor satu halaman kepada ibunya, kemudian ketika Maghrib tiba, memuraja’ah [mengulang-ulang] hafalan yang dimiliki sebanyak lima halaman saja. Adapun program dari ayahnya yaitu tilawah Al-Qur’an paling minimal sebulan sekali harus berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali putaran, ketika berhasil mencapai target apa yang ayah dan ibunya minta, beliau tak menyadari hal tersebut hingga akhirnya sadar ketika dewasa, ketika itu ayah dan ibunya selalu memberikan reward atau hadiah karena target telah berhasil dicapai Basyir, mereka membelikan apa yang dia mau, namun orientasinya tetap tertuju pada bagaimana bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebelum naik ke jenjang SMP.
Alhamdulillah berkat karunia Allah dan nikmat-Nya, beliau dimudahkan dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di umur 11 tahun ketika duduk di kelas 6 SD, beliau tidak mengkhatamkan Al-Qur’an tidak secara sempurna, tidak sampai juz 30. Karena pada waktu beliau menyetorkan hafalan kepada ustadz -yang ada di sekolah- pada surat At-Tahrim akhir juz 28, ketika sudah selesai setoran surat At-Tahrim ustadznya mengatakan dan memerintahkan kepadanya untuk berhenti, “cukup ya Basyir kamu sudah selesai menghafal Al-Qur’an”, kata beliau meniru perkataan ustadznya, beliau pun terheran, “kenapa ustadz Ana belum selesai menyetor juz 29 dan 30”, ustadznya pun balik menjawab, “tak apa, kamu sudah menghafal Al-Qur’an, kamu sudah berhasil menghafal juz 29 dan 30 secara mendengar”, memang kenyataannya seperti itu beliau menghafalkan juz 29 dan 30 tanpa menghafal secara lisan atau secara disetorkan, melainkan hanya mendengar bacaan Al-Qur’an juz 29 dan 30 dari orangtua, saudara-saudarinya yang telah terekam secara otomatis dalam ingatannya.
Lepas dari bangku SD, beliau merasa sedikit bangga, namun ketika teman-teman dan sanak saudara Basyir bertanya kepada ayah ataupun ibunya, “apakah Basyir sudah berhasil menghafalkan Al-Qur’an”, “ya sudah berhasil menghafalkan Al-Qur’an secara hifdz [menghafal]”, akan tetapi ketika Basyir dites dan ditanya suratnya tidak bisa, karena ketika SD itu orientasinya hanya tertuju kepada berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an saja, tidak ada pikiran untuk melancarkan dan mengitqankan dan seterusnya, hingga akhirnya ayah Basyir mempunyai pikiran yang sama dengannya yaitu masuk ke pesantren Al-Qur’an kembali, dan akhirnya masuklah Basyir ke sebuah pesantren yang bernama Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia di Bogor, karena merasa terpanggil dan tuntutan alami, untuk apa beliau menghafalkan Al-Qur’an secara sempurna akan tetapi ketika disuruh membaca secara acak tidak bisa, ayahnya pun pernah berucap, “Basyir, kamu tidak bisa mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an kalau kamu tidak bisa menghafal ayat-ayatnya secara sempurna”, melalui perintah ayahnya tersebut Basyir termotivasi menghafalnya secara ulang, beliau pun mengakui awalnya agak berat ketika menghafalkan Al-Qur’an secara ulang di pesantren Darul Quran Mulia itu, berkat dukungan dan doa dari orangtua dan sanak saudara dan tentunya dari dirinya sendiri akhirnya Basyir pun berhasil mengkhatamkan kembali hafalan Al-Qur’an di usianya yang ketiga belas tahun, dan rajin memuraja’ah secara terus menerus sampai sempurna karena ia sadar hafalannya belum lancar, padahal orang lain telah menilai hafalannya sudah bagus dan lancar.
III. Suasana Keluarga dan Lingkungan
Kedua orang tuanya telah berusaha menciptakan sebuah lingkungan yang paling kondusif di rumah, hanya menyalahkan televisi dua jam saja dan lebih dari dua jam ketika hari libur atau hari Ahad. Kemudian ibunya mewajibkan Basyir muraja’ah dan tilawah setelah Maghrib serta menyetorkan hafalan baru setelah Subuh sebelum masuk sekolah. Ayahnya secara naluri dan alami sering menyetel radio atau kaset murattal Al-Qur’an imam Masjidil Haram, setiap saat Al-Qur’an terdengar di telinganya ketika berada di rumah, sehingga sehari-harinya tercipta suasana lingkungan qur’ani.
Program tersebut mempunyai kelebihan tersendiri, ketika orangtua tidak bisa mengontrol kegiatan anak-anak di rumah, seorang ayah sudah tahu apa yang dilihat dan didengarkan, tentu yang didengarkan ketika ayahnya tidak ada adalah murattal, dan apa yang dilihat adalah buku bacaan, karena salah satu bentuk yang ayah Basyir ciptakan adalah membuat perpustakaan pribadi yang berisikan koleksi buku hingga empat sampai lima ribu buku, sehingga ketika televisi tidak dinyalakan maka Basyir lari ke perpustakaan, membaca bacaan anak-anak yang islami.
Dalam perpustakaan pribadi tersebut, buku koleksinya mencakup semua hal, baik tentang politik dan hukum sebuah kegiatan yang digeluti ayah Basyir, maupun yang ibunya tekuni tentang kewanitaan dan psikologi anak, kemudian yang saudara-saudarinya dalami tentang ilmu-ilmu syariah, kitab-kitab fiqih dan tafsir, buku-buku ilmiah, sains dan eksakta, hingga apa yang adiknya senangi ketika itu yaitu novel-novel remaja dan motivasi, jadi pemandangan yang tak aneh ketika televisi dimatikan mereka bisa betah berjam-jam di dalam perpustakaan, menggeluti bacaan yang mereka suka dan senangi, hal tersebutlah yang telah berhasil membentuk pribadi keluarganya menjadi pribadi yang positif, suka membaca, gemar menelaah ilmu-ilmu, gemar berdiskusi. Intinya kedua orangtua Basyir tidak hanya ingin Al-Qur’an cukup dihafal saja namun harus diamalkan dan dipraktekkan pada kehidupan nyata dengan hati yang bersih.
Al-Qur’an dijadikan sebagai dasar pijakan utama masing-masing anak agar hobi dan kelebihan mereka yang berbeda satu sama lain bisa lebih terarah, dan itu pun juga harus dimulai dengan kecintaan terhadap buku-buku ilmiah dan buku-buku yang bermanfaat lainnya. Uniknya, ketika beliau masih kecil ibunya sering membawakan dongeng sebelum tidur, setiap malam diceritakan kepadanya tentang sirah sahabat, khulafaur rasyidin, dan yang lebih utama adalah sirah nabawi.
Hiburan lain yang ibunya izinkan adalah mendengarkan lantunan nasyid dan musik islami yang mengandung ajaran Islam, Rasulullah maupun sahabat. Sehingga kadang kala apa yang mereka ketahui dan apa yang ada di kepala mereka tidak sama dengan apa yang digeluti dan apa yang disenangi oleh anak-anak yang seusia mereka, contohnya ketika SD teman-temannya mungkin suka dengan yang namanya game online, namun secara pribadi Basyir tidak menyukai hal tersebut, lebih menyenangi hal-hal yang berbau kegiatan positif, itu dampak positif dari didikan orang tuanya yang telah membentuk anak-anaknya memiliki karakter yang baik, kuat dan qur’ani. Semoga selalu istiqamah.
IV. Hikmah Mengikuti Perlombaan Menghafal Al-Qur’an
Sang Jawara Nasional MHQ 30 juz ini menjadikan perlombaan menghafal Al-Qur’an dan sejenisnya sebagai batu loncatan untuk maju ke depan, karena sebelum mengikuti perlombaan Basyir belum mengetahui di mana kadar kekuatan hafalan yang dimiliki, perlombaan tersebut pun dijadikannya sebagai sarana bukan tujuan, karena setelah mengikuti perlombaan itu ia sadar masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi hafalan maupun tajwidnya, pada akhirnya ia pun termotivasi untuk selalu mengulang-ulang hafalan yang ada agar selalu melekat dalam dirinya.
Dalam musabaqah [kompetisi sehat] itupun Basyir dipertemukan dengan para pecinta dan penghafal Al-Qur’an dari seluruh Indonesia maupun luar negeri, bisa mengenal lebih dalam dan bisa berinteraksi secara langsung, berbagi pengalaman dan diskusi-diskusi yang masih berkaitan dengan kesucian Al-Qur’an dan masalah kehidupan yang lainnya, itulah salah satu kelebihan yang bisa didapatkan Basyir setelah mengikuti perlombaan MTQ dan sejenisnya. Jadi bukan hanya kemenangan yang dicari, karena menang-kalah adalah hal biasa dalam kehidupan, yang luar biasa adalah persahabatan sesama pecinta Al-Qur’an yang harus dijunjung tinggi.
V. Harapan dan Target
Pemuda yang dianugerahi Allah banyak nikmat ini berkeinginan memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an sampai jenjang tertinggi di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Tujuannya ingin mengabdikan diri untuk umat dan memperbaiki moral bangsa, moral pemuda yang mulai merosot, ia yakin bisa merubah hal tersebut melalui prinsipnya dengan Al-Qur’an, “Allah akan membantu orang-orang yang membantu agama-Nya”.
Beliau pun ingin bertemu dengan orang-orang hebat dan sukses, masyaikh, para imam besar dan tokoh qari lebih banyak lagi, karena sebelumnya beliau pernah bertemu dengan Syekh Abdullah bin Ali Bashfar salah seorang imam besar di Jeddah, Arab Saudi, Syekh Aiman Rusyd al-Suwaidi seorang pakar qiraah yang berasal dari Syria, Syekh Anas Ahmad Karzoun, dan masih banyak lagi yang lainnya sewaktu mengikuti pertemuan dengan para penghafal Al-Qur’an anak-anak se-dunia di Jeddah, Arab Saudi. Ini adalah salah satu bukti kemudahan yang Allah berikan kepadanya karena selalu berusaha untuk berkomitmen dengan Al-Qur’an. Basyir pun tetap yakin akan bertemu dengan orang-orang yang lebih hebat lainnya jika ia berkomitmen untuk terus mengabdikan diri kepada Al-Qur’an. Karena harapan dan mimpi beliau lainnya adalah ingin menjadi Imam Besar di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, semoga Allah mengabulkan doanya tersebut. Aamiin.
Target Basyir selanjutnya adalah ingin membangun pesantren Al-Qur’an yang mempelajari ilmu-ilmu sains dan eksakta, agar bisa mendidik dan mengajarkan pemuda-pemudi bangsa Indonesia menjadi generasi qur’ani. Karena cita-cita terbesar Basyir sewaktu kecil adalah ketika sudah besar nanti ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Cita-cita anak yang sungguh luar biasa. Semoga banyak yang mengaminkan.
VI. Tips dan Trik Menghafal Al-Qur’an
Hal yang paling utama adalah pasang niat semua karena Allah, harus memiliki tekad dan azam yang kuat untuk berjihad di jalan-Nya serta mengorientasikan semua tujuan kepada ridha dan surga-Nya.
Sebelum masuk program menghafal diharuskan untuk mengikuti program tahsin, tujuannya untuk memperbaiki pelafalan bacaan Al-Qur’an dan menguasai tajwid. Setelah itu boleh mengikuti program tahfizh dengan mengikuti tips berikut:
1. Membagi waktu menjadi dua kali dalam sehari, waktu Subuh untuk menghafal dan waktu Maghrib digunakan untuk mengulang hafalan.
2. Harus memiliki musyrif, guru ngaji untuk menyetor dan membenarkan hafalan, musyrifnya pun harus hafal Al-Qur’an dengan baik.
3. Memakai satu mushaf tetap hingga selesai, mushaf dengan rasm utsmani.
4. Evaluasi hafalan secara berkala, setiap juz yang sudah selesai dihafal harus dites sampai mengetahui dan memperbaiki tingkat kesalahan sekecil mungkin. Begitu juga per-5 juz, per-10 juz, dan seterusnya sesuai kelipatan hingga 30 juz.
6. Tingkatkan amalan shalih.
7. Jadikan shalat-shalat sunnah rawatib sebagai waktu untuk mengulang walaupun hanya beberapa ayat, lebih afdhal lagi melakukan muraja’ah satu sampai dua juz pada waktu shalat malam atau tahajud, lebih banyak jumlah juz yang diulang akan lebih bagus lagi, karena sepertiga malam adalah sebaik-baik waktu agar hafalan yang ada tetap melekat kuat.
8. Cari lingkungan terbaik untuk menghafal, berkumpul bersama orang shalih dan para penghafal Al-Qur’an.
9. Doa tanpa henti kepada Allah, meminta keistiqamahan dan kelancaran, karena Al-Qur’an diturunkan dari Allah.
10. Tambahan, untuk mempercepat dan mempermudah dalam menghafal dianjurkan memakai mushaf rasm utsmani yang ada terjemahannya, agar apa yang dihafal lebih meresap di hati.
Demikian tips dan trik menghafal Al-Qur’an dari Muhammad Saihul Basyir, seorang pemuda kece –pemuda yang taat kepada kedua orangtua dan agama- lagi sangat bersahabat ini. Semoga kebaikan ini menjadi ladang amal untuk beliau karena mau berbagi pengalaman untuk kita semua, tentunya hal ini harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga kita dan anak keturunan semua menjadi ahlul quran, berpegang teguh kepada ajaran agama, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aamiin.
VII. Tes Hafalan
Selain memiliki wajah yang sejuk dipandang dan memiliki prinsip “Forever single until the time”, suara alunan murattalnya pun tak kalah indah, tak aneh jika banyak prestasi yang diraihnya karena keistimewaan hafalannya yang luar biasa.
Berikut contoh tes hafalan Al-Qur’an yang dijawabnya dengan tenang dan lancar, tak aneh bila nilai Mumtaz disandangnya:
- Juz 5, Surah An-Nisaa ayat: 115-125
- Juz 25, Surah As-Syuuraa ayat: 47-Selesai disambung awal Surah Az-Zukhruuf sampai ayat 8.
Bahkan Syekh Muhammad Jibril, salah seorang Imam dan Syekh Murattal Al-Qur’an di Mesir memberikan penilaian baik terhadap hafalan dan tilawah Saihul Basyir melalui salah satu video Saihul Basyir sewaktu mengikuti perlombaan menghafal Al-Qur’an -yang penulis kirim khusus ke Syekh Jibril-. Beliau menilai bacaan dan hafalan Saihul Basyir sudah bagus, beliau hanya menyarankan agar Saihul Basyir meningkatkan dan belajar kembali aneka ragam nagham membaca Al-Qur’an agar bisa menguasai semua nada murattal, tidak hanya satu nada bacaan saja. Semoga dengan mendapatkan doa khusus dan suntikan pujian serta kritikan –nasihat- yang membangun dari Syekh Muhammad Jibril dapat diterapkan langsung oleh Saihul Basyir, dan ia pun semakin semangat untuk mempelajarinya.
Harapan ke depan, semoga Saihul Basyir bisa memperdalam dan menguasai tafsir Al-Qur’an dengan tiga bahasa; Arab-Inggris-Indonesia. Karena poin hafalan Al-Qur’annya sudah didapat. Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada beliau –tentu kepada kita semua juga- agar istiqamah di jalan-Nya, dan semoga Allah memperbanyak “Muhammad Saihul Basyir” lainnya yang selalu berkomitmen untuk menjaga ayat-ayat-Nya. Aamiin. []
Saihul Basyir bersama junud (pasukan) Daarul Qur'an
Muhammad Saihul Basyir bersama kedua orang tua dan sebagian anggota sanak saudaranya di ruang perpustakaan pribadi
Minggu, 29 September 2013
Imunisasi Siasat Yahudi Lumpuhkan Generasi?
Bila
bibit penyakit penderita TBC, Hepatitis, Meningitis, HIV, Campak, Volio
atau penyakit lainnya yang menyerang di tubuh seseorang di ambil, baik
berupa bakteri, virus, lantas diolah sedemikian rupa entah dengan
istilah dilemahkan atau dilumpuhkan, kemudian binih penyakit tersebut
diperbanyak lalu disuntikkan ke tubuh anda atau anak anda!
Apakah dengan senang hati anda menerimanya? Aksi memasukkan bibit penyakit inilah yang akrab disebut vaksinasi atau imunisasi.
Mungkinkah tindakan ini bisa meningkatkan daya tahan tubuh bayi, anak-anak atau orang dewasa sekalipun.
Sebuah tangis pecah saat sang bayi mungil di tusuk dengan sebuah jarun injeksi untuk dimasukkan sesuatu dalam tubuhnya. Dia hanya menangis tak bisa menolak bahkan lari dari suntikkan tersebut. Dia begitu pasrah dengan tindakkan orang tuanya yang memilih jalan untuk mengimunisasi buah hati mereka.
Apakah kita selalu diam saat tubuh mungil yang selalu kita timang dimasukkan beragam racun yang kemudian akan merayap di seluruh pembuluh darah dan bersarang di organ-organ tubuh mereka? Orang tua yang sehat dan arif tentu akan menolak keras bahkan menentangnya bila hal itu terjadi.
Adakah orang akan sehat setelah dimasukkan beragam racun dalam tubuhnya, bahkan racun-racun tersebut ternyata adalah virus dan bakteripenyakit berbahaya? Atau racun itu dapat berupa khamr (minuman memabukkan), nuklir, bom atom, sabun cuci, pembersih lantai, baterei, pewarna (cat) dan bahan berbahaya lainnya? Bahkan racun-racun tersebut bersala dari bangkai babi, bangkai darah dan nanah?! Mari kita renungkan..
Sejarah Vaksin
Menelaah sejarah vaksin membuat hati menjadi geram, karena kita akan tahu betapa keji perbuatan-perbuatan mereka yaitu kalangan Yahudi untuk menguasai dunia dengan cara menyebarkan racun/ kuman pembunuh untuk ras lain terutama kaum muslim.
Pada abad 18 vaksin telah digunakan untuk memusnahkan suku Indian yang dilakukan oleh kaum zionis dengan pimpinan Jendral Jeffrer Amherst, dengan cara menyebar kuman dan penyakit yang disisipkan dalam selimut dan handuk yang dibagikann ke suku tersebut.
Kemudian pada abad 19 serum berbahay tersebut dijadikan amunisi sebagai senjata biologis dalam pperangan bahkan untuk pembunuhan secara massal. Yang akibatnya dapat menyerang dan menghancurkan otak dan system syaraf pusat.
Dan di abad 20 ini, vaksin telah dikelolah secara modern oleh Flexner Brothers, dan didanai oleh Keluarga Rockefeller dan dia adalah salah satu keluarga Yahudi yang berpengaruh di dunia. Dan merupakan bagian dari Zionisme Internasional yang memprakarsai pendirian WHO dan lembaga dunia lainnya.
Pendeknya dari data historis vaksinasi dijadikan program zionisme internasional dalam rangka menggapai misi “new world order” (tatanan dunia baru) untuk melestarikan kekuasaan Yahudi. Program vaksin merupakan misi pengendalian penduduk yang dengan program ini mereka meraup dua keuntungan sekaligus, yakni penduduk terkendali dan menuai keuntungan yang besar.
Artinya boleh jadi niat busuk Yahudi senada dengan teori, bila ingin senjata laku maka ciptakan perang. Begitu juga dalam masalah ini, mereka beranjak dari teori bila ‘obat’ (produk farmasi) ingin laku dan membuat orang lain menderita, ciptakan penyakit. Dengan strategi pembodohan ini Yahudi berusaha bangsa lain menderita sambil menguras isi kantongnya dengan alasan kesehatan.
Persoalan Vaksin (Cara Membuat Vaksin)
Penggunaan barang haram dalam pembuatan vaksin telah diakui oleh produsen vaksin terbesar di tanah air yaitu Biofarma. Seperti pernah diungkapkan Drs.Iskasdar, Apt; M.M ketika menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Biofarma kepada Hidayatullah.com beberapa waktu silam. Dia menjelaskan bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV). Selain itu vaksin juga menggunakan media biakan virus yang berasal dari jaringan ginjal kera (sel vero), sel dari ginjal anjing, dan dari retina mata manusia.
Sementara menurut Kepala Divisi PT. Biofarma, Drs. Dori Ugiyadi mengatakan, ketiga sel kultur tersebut dipakai untuk pengembangan vaksin influenza. “di Biofarma, kita menggunakan sel ginjal monyet untuk produksi vaksin polio. Kemudian sel embrio ayam untuk produksi vaksin campak.” Ujar Dori seraya menambahkan secara produksi vaksin masih menggunakan berbagai macam sel yang berasal dari hewan maupun manusia.
Bahan Vaksin
Ummu Salamah mengurai bahan utama vaksin adalah kuman virus atau bakteri hidup atau mati, toksoid atau DNA dengan tambahan bahan tertentu, manjalankan berbagai fungsi dan biakan pembuatan vaksin.
Bahan-bahan vaksin tersebut antara lain:
Alumunium. Logam ini ditambahkan kepada vaksin dalam bentuk gel atau garam untuk mendorong produksi anti bodi. Logam ini dikenal sebagai kemungkinan penyebab kejang, penyakit alizheimer, kerusakan otak dan dementia (pikun). Menurut Persatuan Pemerhati Vaksin Australia bahan ini dapat meracuni darah, syaraf pernafasan, mengganggu sistem imun dan syaraf seumur hidup. Alumunium digunakan pada vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus), Dapt dan Hepatitis B.
Benzetonium Klorida, yaitu bahan pengawet yang belum dievaluasi untuk konsumsi menusia dan banyak digunakan untuk vaksin anthrax.
Etilen Glikol merupakan bahan utama anti beku yang digunakan pada beberapa vaksin yaitu Dapt, polio, hepatitis B sebagai bahan pengawet.
Formaldehida / Formalin. Bahan ini menimbulkan kekhawatiran besar karena dikenal sebagai karsinogen (zat pencetus kenker). Bahan ini dikenal untuk penggunaan pembalseman, fungisida, insektisida dalam pembuatan bahan peledak dan kain. Bahan ini dapat ditemukan pada beberapa vaksin.
Gelatin adalah bahan yang dikenal sebagai allergen (bahan pemicu alergi). Bahan ini ditemukan pada vaksin cacar air dan MMR (Measles/ campak, Mumps/ gondong,Rubella/ campak jerman).
Glutamat digunakan untuk menstabilkan beberapa vaksin panas, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini dikenal menyebabkan reaksi buruk dan ditemukan pada vaksin varicela.
Noemicin. Antibiotik ini digunakan untuk mencegah petumbuhan kuman didalam biakan vaksin. Bahan ini menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan ditemukan pada vaksin MMR dan Polio.
Fenol. Bahan yang berasal dari tar batubara ini digunakan di dalam produk bahan pewarna, desinfektan, plastic, bahan pengawet dan germisida. Bahan ini sangat beracun dan membahayakan.
Streptomisin. Antibiotika ini dikenal menimulkan reaksi alergi danditemukan pada vaksin polio.
Timerosal. Bahan ini adalah pengawet yang mengandung 50% etil merkuri yang mempunyaii banyak sifat yang sama dengan merkuri (air raksa) yang sangat beracun.
Sementara Persatuan Pemerhati Vaksin Australia juga adanya bahan lain dalam vaksin antara lain :
Amonium Sulfat diduga dapat meracuni sistem pencernaan, hati, syaraf dan sistem pernafasan.
Ampotericin B, sejenis obat yang digunakan untuk mencegah penyakit jamur. Efek sampingnya menyebabkan pembekuan darah, bentuk sel darah merah menjaditidak sempurna, masalah ginjal, kelesuan, demam dan alergi pada kulit.
Kasein, perekat yang kuat, sering digunakan untuk melekatkan label pada botol. Walaupun dihasilkan dari susu, namun bahan ini dianggap protein asing yang beracun.
Polysorbate 20 dan Polysorbate 80, bahan yang meracuni kulit atau organ genital.
Hentikan Vaksin
Alhamdulillah sudah cukup banyak tenaga medis dan bidan yang telah menghentikan program pemberian imunisasi baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Bidan Emma misalnya, dia telah menghentikan program imunisasi di kliniknya dengan alasan tidak mau mendzolimi bayi dan masyarakat dengan memasukkan ragam barang haram ke tubuh mereka.
Jika kita telaah telah banyak jenis vaksin yang harus diterima tubuh ini, mulai dari bayi usia 0-1 minggu diberikan vaksin hepatitis ketika 2 jam kelahiran, 1 minggu -3 bulan diberikan vaksin BCG, DPT I – DPT V, hepatitis I – III, Polio I – IV, usia 1 tahun vaksin campak, usia 1-3 tahun diberi vaksin MMR (Measles/ campak, Mumps/ gondong,Rubella/ campak jerman), usia kelas VI SD diberi vaksin DPT VI. Sedangkan bagi dewasa diberlakukan vaksin anti kanker servik, vaksin TT (Tetanus Toxoid) untuk ibu hamil, vaksin meningitis untuk calon jamaah haji, vaksin rabies, vaksin pneumococcus, smallpox, influenza, demam tifoid, cacar air, hepatitis A dan lainnya.
Seperti yang di ungkapkan oleh dr. Rini Syafri, M.Si memberikan kesimpulan bahwa vaksinasi hanya menjadi mimpi buruk bagi dunia akibat berlakunya system sekuler.
Bahkan kesadaran masyarakat AS dan negara Eropa seperti Perancis, Kanada, Inggris, dan Belanda telah membatalkan beberapa program vaksinasi.
***
Astagfirullah apa yang telah kita perbuat pada buah hati kita selama ini. Bagi para orang tua yang telah terlanjur membiarkan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi sebelum terlambat mari kita hentikan gerakan ini. Kalau bukan kita sebagai orang tua siapa lagi yang akan menjaga buah hati kita dari tangan-tangan kotor kaum Yahudi. Dan bahkan kita nanti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta'ala tentang keturunan kita. Jangan sampai kita terperosok ke jalan yang dapat menjerumuskan kita pada siksa Nya. Mari kita segera bertobat atas apa yang telah kita perbuat pada buah hati kita.
Fakta lain telah banyak yang menyatakan bahwa anak-anak tanpa imunisasi ternyata memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan kecerdasan yang lebih baik pula. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tiin: 4)
Manusia merupakan makhluk unik yang dilengkapi system kekebalan alami yang berpotensi melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya. Jika manusia menjalani hidupnya sesuai petunjuk syariat yang berupa perintah dan larangan, insya Allah kesehatannya terjaga dengan baik. Tuntunan Islam dalam masalah kesehatan jasmani dan rohani sudah sangat jelas dan tidak ada sedikitpun yang diragukan. Islam telah mendidik umatnya untuk merawat dan meningkatkan kesehatannya (antibodi) dengan menkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib, sekaligus melarang makan dan minum barang yang diharamkan, kotor dan najis. Wallahua'lam bish shawab.
Apakah dengan senang hati anda menerimanya? Aksi memasukkan bibit penyakit inilah yang akrab disebut vaksinasi atau imunisasi.
Mungkinkah tindakan ini bisa meningkatkan daya tahan tubuh bayi, anak-anak atau orang dewasa sekalipun.
Sebuah tangis pecah saat sang bayi mungil di tusuk dengan sebuah jarun injeksi untuk dimasukkan sesuatu dalam tubuhnya. Dia hanya menangis tak bisa menolak bahkan lari dari suntikkan tersebut. Dia begitu pasrah dengan tindakkan orang tuanya yang memilih jalan untuk mengimunisasi buah hati mereka.
Apakah kita selalu diam saat tubuh mungil yang selalu kita timang dimasukkan beragam racun yang kemudian akan merayap di seluruh pembuluh darah dan bersarang di organ-organ tubuh mereka? Orang tua yang sehat dan arif tentu akan menolak keras bahkan menentangnya bila hal itu terjadi.
Adakah orang akan sehat setelah dimasukkan beragam racun dalam tubuhnya, bahkan racun-racun tersebut ternyata adalah virus dan bakteripenyakit berbahaya? Atau racun itu dapat berupa khamr (minuman memabukkan), nuklir, bom atom, sabun cuci, pembersih lantai, baterei, pewarna (cat) dan bahan berbahaya lainnya? Bahkan racun-racun tersebut bersala dari bangkai babi, bangkai darah dan nanah?! Mari kita renungkan..
Sejarah Vaksin
Menelaah sejarah vaksin membuat hati menjadi geram, karena kita akan tahu betapa keji perbuatan-perbuatan mereka yaitu kalangan Yahudi untuk menguasai dunia dengan cara menyebarkan racun/ kuman pembunuh untuk ras lain terutama kaum muslim.
Pada abad 18 vaksin telah digunakan untuk memusnahkan suku Indian yang dilakukan oleh kaum zionis dengan pimpinan Jendral Jeffrer Amherst, dengan cara menyebar kuman dan penyakit yang disisipkan dalam selimut dan handuk yang dibagikann ke suku tersebut.
Kemudian pada abad 19 serum berbahay tersebut dijadikan amunisi sebagai senjata biologis dalam pperangan bahkan untuk pembunuhan secara massal. Yang akibatnya dapat menyerang dan menghancurkan otak dan system syaraf pusat.
Dan di abad 20 ini, vaksin telah dikelolah secara modern oleh Flexner Brothers, dan didanai oleh Keluarga Rockefeller dan dia adalah salah satu keluarga Yahudi yang berpengaruh di dunia. Dan merupakan bagian dari Zionisme Internasional yang memprakarsai pendirian WHO dan lembaga dunia lainnya.
Pendeknya dari data historis vaksinasi dijadikan program zionisme internasional dalam rangka menggapai misi “new world order” (tatanan dunia baru) untuk melestarikan kekuasaan Yahudi. Program vaksin merupakan misi pengendalian penduduk yang dengan program ini mereka meraup dua keuntungan sekaligus, yakni penduduk terkendali dan menuai keuntungan yang besar.
Artinya boleh jadi niat busuk Yahudi senada dengan teori, bila ingin senjata laku maka ciptakan perang. Begitu juga dalam masalah ini, mereka beranjak dari teori bila ‘obat’ (produk farmasi) ingin laku dan membuat orang lain menderita, ciptakan penyakit. Dengan strategi pembodohan ini Yahudi berusaha bangsa lain menderita sambil menguras isi kantongnya dengan alasan kesehatan.
Persoalan Vaksin (Cara Membuat Vaksin)
Penggunaan barang haram dalam pembuatan vaksin telah diakui oleh produsen vaksin terbesar di tanah air yaitu Biofarma. Seperti pernah diungkapkan Drs.Iskasdar, Apt; M.M ketika menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Biofarma kepada Hidayatullah.com beberapa waktu silam. Dia menjelaskan bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV). Selain itu vaksin juga menggunakan media biakan virus yang berasal dari jaringan ginjal kera (sel vero), sel dari ginjal anjing, dan dari retina mata manusia.
Sementara menurut Kepala Divisi PT. Biofarma, Drs. Dori Ugiyadi mengatakan, ketiga sel kultur tersebut dipakai untuk pengembangan vaksin influenza. “di Biofarma, kita menggunakan sel ginjal monyet untuk produksi vaksin polio. Kemudian sel embrio ayam untuk produksi vaksin campak.” Ujar Dori seraya menambahkan secara produksi vaksin masih menggunakan berbagai macam sel yang berasal dari hewan maupun manusia.
Bahan Vaksin
Ummu Salamah mengurai bahan utama vaksin adalah kuman virus atau bakteri hidup atau mati, toksoid atau DNA dengan tambahan bahan tertentu, manjalankan berbagai fungsi dan biakan pembuatan vaksin.
Bahan-bahan vaksin tersebut antara lain:
Alumunium. Logam ini ditambahkan kepada vaksin dalam bentuk gel atau garam untuk mendorong produksi anti bodi. Logam ini dikenal sebagai kemungkinan penyebab kejang, penyakit alizheimer, kerusakan otak dan dementia (pikun). Menurut Persatuan Pemerhati Vaksin Australia bahan ini dapat meracuni darah, syaraf pernafasan, mengganggu sistem imun dan syaraf seumur hidup. Alumunium digunakan pada vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus), Dapt dan Hepatitis B.
Benzetonium Klorida, yaitu bahan pengawet yang belum dievaluasi untuk konsumsi menusia dan banyak digunakan untuk vaksin anthrax.
Etilen Glikol merupakan bahan utama anti beku yang digunakan pada beberapa vaksin yaitu Dapt, polio, hepatitis B sebagai bahan pengawet.
Formaldehida / Formalin. Bahan ini menimbulkan kekhawatiran besar karena dikenal sebagai karsinogen (zat pencetus kenker). Bahan ini dikenal untuk penggunaan pembalseman, fungisida, insektisida dalam pembuatan bahan peledak dan kain. Bahan ini dapat ditemukan pada beberapa vaksin.
Gelatin adalah bahan yang dikenal sebagai allergen (bahan pemicu alergi). Bahan ini ditemukan pada vaksin cacar air dan MMR (Measles/ campak, Mumps/ gondong,Rubella/ campak jerman).
Glutamat digunakan untuk menstabilkan beberapa vaksin panas, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini dikenal menyebabkan reaksi buruk dan ditemukan pada vaksin varicela.
Noemicin. Antibiotik ini digunakan untuk mencegah petumbuhan kuman didalam biakan vaksin. Bahan ini menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan ditemukan pada vaksin MMR dan Polio.
Fenol. Bahan yang berasal dari tar batubara ini digunakan di dalam produk bahan pewarna, desinfektan, plastic, bahan pengawet dan germisida. Bahan ini sangat beracun dan membahayakan.
Streptomisin. Antibiotika ini dikenal menimulkan reaksi alergi danditemukan pada vaksin polio.
Timerosal. Bahan ini adalah pengawet yang mengandung 50% etil merkuri yang mempunyaii banyak sifat yang sama dengan merkuri (air raksa) yang sangat beracun.
Sementara Persatuan Pemerhati Vaksin Australia juga adanya bahan lain dalam vaksin antara lain :
Amonium Sulfat diduga dapat meracuni sistem pencernaan, hati, syaraf dan sistem pernafasan.
Ampotericin B, sejenis obat yang digunakan untuk mencegah penyakit jamur. Efek sampingnya menyebabkan pembekuan darah, bentuk sel darah merah menjaditidak sempurna, masalah ginjal, kelesuan, demam dan alergi pada kulit.
Kasein, perekat yang kuat, sering digunakan untuk melekatkan label pada botol. Walaupun dihasilkan dari susu, namun bahan ini dianggap protein asing yang beracun.
Polysorbate 20 dan Polysorbate 80, bahan yang meracuni kulit atau organ genital.
Hentikan Vaksin
Alhamdulillah sudah cukup banyak tenaga medis dan bidan yang telah menghentikan program pemberian imunisasi baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Bidan Emma misalnya, dia telah menghentikan program imunisasi di kliniknya dengan alasan tidak mau mendzolimi bayi dan masyarakat dengan memasukkan ragam barang haram ke tubuh mereka.
Jika kita telaah telah banyak jenis vaksin yang harus diterima tubuh ini, mulai dari bayi usia 0-1 minggu diberikan vaksin hepatitis ketika 2 jam kelahiran, 1 minggu -3 bulan diberikan vaksin BCG, DPT I – DPT V, hepatitis I – III, Polio I – IV, usia 1 tahun vaksin campak, usia 1-3 tahun diberi vaksin MMR (Measles/ campak, Mumps/ gondong,Rubella/ campak jerman), usia kelas VI SD diberi vaksin DPT VI. Sedangkan bagi dewasa diberlakukan vaksin anti kanker servik, vaksin TT (Tetanus Toxoid) untuk ibu hamil, vaksin meningitis untuk calon jamaah haji, vaksin rabies, vaksin pneumococcus, smallpox, influenza, demam tifoid, cacar air, hepatitis A dan lainnya.
Seperti yang di ungkapkan oleh dr. Rini Syafri, M.Si memberikan kesimpulan bahwa vaksinasi hanya menjadi mimpi buruk bagi dunia akibat berlakunya system sekuler.
Bahkan kesadaran masyarakat AS dan negara Eropa seperti Perancis, Kanada, Inggris, dan Belanda telah membatalkan beberapa program vaksinasi.
***
Astagfirullah apa yang telah kita perbuat pada buah hati kita selama ini. Bagi para orang tua yang telah terlanjur membiarkan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi sebelum terlambat mari kita hentikan gerakan ini. Kalau bukan kita sebagai orang tua siapa lagi yang akan menjaga buah hati kita dari tangan-tangan kotor kaum Yahudi. Dan bahkan kita nanti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta'ala tentang keturunan kita. Jangan sampai kita terperosok ke jalan yang dapat menjerumuskan kita pada siksa Nya. Mari kita segera bertobat atas apa yang telah kita perbuat pada buah hati kita.
Fakta lain telah banyak yang menyatakan bahwa anak-anak tanpa imunisasi ternyata memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dan kecerdasan yang lebih baik pula. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tiin: 4)
Manusia merupakan makhluk unik yang dilengkapi system kekebalan alami yang berpotensi melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya. Jika manusia menjalani hidupnya sesuai petunjuk syariat yang berupa perintah dan larangan, insya Allah kesehatannya terjaga dengan baik. Tuntunan Islam dalam masalah kesehatan jasmani dan rohani sudah sangat jelas dan tidak ada sedikitpun yang diragukan. Islam telah mendidik umatnya untuk merawat dan meningkatkan kesehatannya (antibodi) dengan menkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib, sekaligus melarang makan dan minum barang yang diharamkan, kotor dan najis. Wallahua'lam bish shawab.
Rabu, 29 Mei 2013
Mengencangkan Kulit Wajah dengan Cara Alami
- Kentang Segar : Iris tipis-tipis kentang segar lalu tempelkan pada sudut-sudut ketuaan seperti dahi, ujung mata atau pelipis, sudut-sudut mulut dan hidung. biarkan kentang melekat dan mengering selama seperempat jam dan akan terasa kulit wajah seperti ditarik-tarik. Untuk hasil yang lebih sempurna dan merata lebih baik kentang diparut dan dimaskerkan rata ke wajah. Usahakan jangan banyak bergerak.
- Ragi Tempe : Ambil beberapa butir ragi tempe lalu cairkan dengan air sehingga menjadi cream kental. Aduk rata kemudian jadikan masker untuk wajah yang telah dicuci, biarkan melekat diwajah sampai mengering sehingga kulit wajah terasa ditarik-tarik. JANGAN MENGGUNAKAN RAGI KUE KARENA AKAN MEMBAHAYAKAN MUKA !
- Cumi-cumi : Jemur cumi sampai bersih lalu ditumbuk menjadi tepung. Gunakan tepung cumi sebagai bedak, bisa juga ditambahkan dengan minyak zaitun.
- Air Kelapa : Ambil segelas air kelapa, usahakan kelapa hijau, campurkan air kelapa ini dengan bahan lain seperti susu murni, satu sendok makan madu dan satu butir telur ayam ambil putih nya saja. Kocok campuren tersebut secara merata lalu Anda kenakan sebagai masker pada malam hari.
- Yoghurt dan Jeruk Nipis : Buatlah pasta dengan mencampurkan dua sendok makan yoghurt kental dan beberapa tetes jeruk nipis segar. Oleskan campuran bahan tersebut pada wajah dan leher Anda. Diamkan selama 15 menit, lalu bilas dengan air dingin. Masker ini bukan hanya untuk mengencangkan kulit tapi bisa menghilangkan bintik-bintik hitam pada wajah.
- Lidah Buaya : Lidah buaya di blender sehingga seperti jus lalu oleskan pada wajah dan leher Anda. Lakukan pemijatan agar hasilnya maksimal.
- Alpukat dan Minyak Zaitun : Haluskan satu buah alpukat dalam mangkuk dan tambahkan dua sendok minyak zaitun ke dalamnya. Masukkan campuran tersebut kedalam lemari es selama setengah jam. Lalu, oleskan pada wajah dan leher. Diamkan selama 20 menit bilas dengan air dingin.
- Pisang : Lumatkan satu atau dua buah pisang sampai hancur dan lembut menyerupai krim, oleskan ke seluruh permukaan wajah dan biarkan selama 30 menit kemudian bilas dengan air hangat.
Ciri Kanker Payudara Pada Wanita dan Cara Mencegahnya
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel
telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga
mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali.
Selain itu, kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh World Health Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD).
Ciri-ciri kanker payudara
Untuk pengobatan atau penanganan kanker payudara yang dilakukan secara medis seperti berikut :
Selain itu, kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh World Health Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD).
Ciri-ciri kanker payudara
- Benjolan pada payudara maupun dibagian yang dekat dengan ketiak.
- Benjolan keras atau padat, tidak nyeri, batas dengan jaringan sekitar tidak jelas, tidak dpt digerakkan.
- Biasanya disertai perubahan pada kulit payudara, mengeras atau berbentuk seperti kulit jeruk, membengkak, adanya cairan dari puting atau perubahan bentuk puting, kadang disertai timbulnya luka.
- Jika sel kanker sudah menyebar hingga ke kelenjar limfa diketiak, akan timbul benjolan kelenjar yang keras dan tidak nyeri.
- Faktor Reproduksi. Terjadinya nuliparitas, menarche pada wanita berusia muda, terjadinya menopause dan kehamilan pertama pada wanita berusia tua.
- Penggunaan Hormon.
- Memiliki Penyakit Fibrokistik.
- Obesitas.
- Konsumsi Lemak yang Berlebihan.
- Radiasi Ionisasi yang terjadi selama atau sesudah pubertas dapat meningkatkan terjadinya resiko kanker payudara.
Untuk pengobatan atau penanganan kanker payudara yang dilakukan secara medis seperti berikut :
- Mastektomi atau operasi pengangkatan payudara
- Radiasi yaitu proses penyinaran dengan sinar X dan sinar gamma pada bagian yang terkena kanker. Ini berfungsi untuk membunuh sel kanker yang masih tersisa setelah operasi.
- Kemoterapi yaitu pemberian obat-obatan anti kanker.
Sabtu, 15 September 2012
Contoh latar belakang karya tulis ilmiah :
Pendeteksi
Hujan Sederhana dengan menggunakan Buzzer
Latar Belakang
Hujan memang merupakan anugerah yang tak ternilai harganya dari Tuhan,
tanpa hujan para petani bisa gagal panen, tanpa hujan sumur-sumur yang ada
menjadi kering dan masyarakat bisa kekurangan sumber air.
Hujan juga kerap kali juga tidak di inginkan oleh masyarakat, seperti
hujan lebat terus menerus sepanjang hari
karena bisa menyebabkan banjir, hujan badai dengan angin puting beliung yang
bisa menyebabkan tumbangnya pohon-pohon di jalan dan menghancurkan rumah-rumah
penduduk.
Pada dasarnya, hujan yang dapat menyebabkan banjir sesungguhnya ulah manusia itu sendiri, mereka membuang sampah
sembarang di pinggir sungai, membangun tempat tinggal di pinggir kali, padahal
pemerintah sebelumnya sudah mengingatkan tidak boleh membangun tempat tinggal
di pinggir kali karena dapat menyebabkan banjir, tetapi nasi sudah menjadi
bubur, akhirnya mereka membangun tempat tinggal disana, ketika ingin digusur
oleh pemerintah mereka merengek sudah
membayar tanah disana oleh oknum tertentu tanpa diketahui oleh pemerintah dan
pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah.
Sebagaimana kita tahu , di
Indonesia beberapa bulan yang lalu mengalami musim hujan terutama pada bulan Januari-Februari, hujan turun begitu lebat. Banyak warga yang sedang tidur
lalu tiba-tiba hujan lebat sehingga
dapat menyebabkan tempat tinggal warga banjir dan menenggelamkan barang-barang milik mereka dan
itu disebabkan karena mereka tidak tahu
kapan datangnya hujan. Untuk mengatasi hal ini, penulis membuat suatu alat elektronika sederhana yang diberi nama “Pendeteksi Hujan Sederhana”, selain harganya terjangkau alat ini juga memudahkan masyarakat untuk mengetahui bahwa hujan sedang turun yang di tandai dengan bunyinya buzzer sehingga mereka yang sedang tertidur lelap bisa mengetahui bahwa diluar sedang hujan dan mereka bisa menyelamatkan barang-barang mereka sebelum datangnya banjir
Sabtu, 01 September 2012
Alasan Kenapa Amerika Gak Nyerang Indonesia
Pentagon membayangkan jika AS
terpaksa harus menyerang Indonesia berapa kerugian yang harus di pikul pihak AS
dan berapa keuntungan pihak indonesia dari kehadiran tentara AS di sana?
Begitu memasuki perairan dataran
indonesia, mereka akan di hadang pihak
bea cukai karena membawa masuk
senjata api dan senjata tajam serta peralatan
perang tanpa surat izin dari
pemerintah RI,Ini berarti mereka harus menyediakan
Uang Damai, coba hitung berapa
besarnya jika bawaanya sedemikian banyak.
Kemudian mereka mendirikan Base camp
militer , bisa di tebak di sekitar base
camp pasti akan di kelilingi
olehpenjual Bakso, Tukang Es kelapa,lapak
VCD bajakan, sampai obral kaos kaki
Rp.10000 3 Pasang.Belum lagi para pengusaha
komedi puter bakal ikut mangkal di
sekitar base camp juga.
Kemudian kendaraan-kendaraan tempur
serta tank -tank lapis baja yang diparkir dekat base camp akan di kenakan
retribusi parkir oleh petugas dari dinas perpakiran daerah. Jika dua jam
pertama perkendaraan dikenakan Rp. 10.000,- (maklum tarif orang bule), berapa
yang harus di bayar AS kalau kendaraan & tank harus parkir selama sebulan.
Sepanjang jalan ke lokasi base camp
pasukan AS harus menghadapi para
Mr.Cepek yang berlagak memperbaiki
jalan sambil memungut biaya bagi kendaraan
yang melewati jalan tersebut. Dan
jika kendaran tempur dan tank harus membelok
atau melewati pertigaan mereka harus
menyiapkan recehan untuk para Mr. Cepek.
Suatu kerepotan besar bagi rombongan
pasukan jika harus berkonvoi, karena
konvoi yang berjalan lambat pasti
akan dihampiri para pengamen, pengemis dan
anak-anak jalanan, ini berarti harus
mengeluarkan recehan lagi. Belum lagi
jika di jalan bertemu polisi yang
sedang bokek, udah pasti kena semprit kerena
konvoi tanpa izin. Bayangkan berapa
uang damai yang harus di keluarkan.
Di base camp militer, tentara AS
sudah pasti nggak bisa tidur,karena nyamuknya
masya Allah, gede-gede kayak
vampire. Malam hari di hutan yang sepi mereka
akan di kunjungi para wanita yang
tertawa dan menangis. Harusnya mereka
senang karena bisa berkencan dengan
wanita ini tapi kesenangan tersebut akan
sirna begitu melihat para wanita ini
punya bolong besar di punggungnya.
Pagi harinya mereka tidak bisa mandi
karena di sungai banyak dilalui Rudal
Kuning yang di tembakkan penduduk
setempat dari Flying helicopter alias wc
terapung di atas sungai.
Pasukan AS juga tidak bisa jauh jauh
dari pelaratan perangnya, karena disekitar base camp sudah mengintai pedagang
besi loakan yang siap mempereteli peralatan perang canggih yang mereka bawa.
Meleng sedikit saja tank canggih mereka bakal siap dikiloin.
Belum lagi para curanmor yang siap
beraksi dengan kunci T-nya siap merebut
jip-jip perang mereka yang kalau di
dempul dan cat ulang bisa di jual mahal
ke anak-anak orang kaya yang pengen
gaya-gayaan.
Dan yang lebih menyedihkan lagi
badan pasukan AS akan jamuran karena tidak
bisa berganti pakaian. Kalau berani
nekat menjemur pakaiannya dan meleng
sedikit saja, besok pakaian mereka
sudah mejeng di pasar jatinegara dilapak-lapak
pakaian bekas. Peralatan
telekomunikasi mereka juga harus di jaga ketat, karena
para bandit kapak merah sudah
mengincar peralatan canggih itu.
Di samping itu mereka juga harus
minta izin kepada RT/ RW dan kelurahan
setempat, berapa meja yang harus di
lalui dan berapa banyak dana yang harus
di siapkan untuk meng-Amplopi
pejabat-pejabat ini.
Para komandan di pasukan AS ini juga
akan kena tugas tambahan mengawasi para
prajuritnya yang banyak menyelinap
keluar base camp buat nonton dangdut diRW 06, katanya ada Inul di sana
.
Setelah menimbang cost and benefit
akhinya Rumsfield memutuskan
TIDAK AKAN MENYERANG INDONESIA !
Langganan:
Postingan (Atom)

